Masuk

Ingat Saya

KEKUATAN KECIL SEBUTIR NASI

Terorisme dan radikalisme, dua kata menyalak dunia. Definisi dari terorisme dan radikalisme itu sendiri telah banyak diceritakan oleh para ahli, dan ijinkan saya merangkumnya dalam bahasa saya sendiri. Terorisme atau dalam bahasa inggris disebut terrorism merupakan suatu aksi yang membuat adanya rasa takut yang berlebihan. Sedangkan, radikalisme atau radicalism diartikan sebagai suatu tindakan menentang suatu tatanan yang sudah ada dengan jalan kekerasan. Rasa takut dan sikap menentang memang luas pengertiannya, namun kali ini, rasa takut dan penentangan yang dimaksud pada artikel ini adalah rasa takut akan adanya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk mencapai suatu tatanan atau kondisi yang mereka anggap benar.

Terorisme dan radikalisme acap kali dikaitkan dengan agama, ya, terkhusus di Indonesia. entah karena apa, tapi memang orang-orang yang melakukan aksi tersebut sering bertameng agama, dan mendasarkan aksi-aksi mereka atas nama jihad.  Menjadi sebuah pertanyaan bagi saya, sebagai seorang muslim, mengapa banyak dari dan bahkan sebagian besar pelaku terorisme dan radikalisme merupakan kelompok muslim? pertanyaan lainnya pun muncul ketika saya menyinggung kata ‘muslim’, benarkah mereka seorang muslim? rentetan kasus-kasus terorisme dan radikalisme yang menunjukkan bahwa mereka yang mengaku-aku sedang berjihad tergambar jelas di negeri tercinta kita Indonesia.

Berawal dari kasus bom marriot di bali, sampai sederetan kasus lainnya hingga terakhir ini adalah kasus bom di sarinah, sungguh membuat nama Islam sendiri menjadi tidak berdaya menghadapi pandangan dan pemikiran orang-orang yang keburu menganggap bahwa ajaran islam lah yang mengajarkan mereka. Bagi sebagian orang yang sudah tahu, bagaiman itu Islam, mereka dengan lantang menjawab dan menyangkal “Terorisme bukan Islam”.

Islam merupakan agama yang mengajarkan perdamaian. Pemahaman yang salah tentang makna jihad haruslah dihentikan. Pemikiran ‘yang paling benar’ harus disetarakan dengan ilmu dan fakta. Terorisme dan radikalisme merupakan kata yang bisa dijadikan positif jika bangsa ini memiliki pemikiran luas. Rasa takut akan melakukan hal yang bodoh, menentang dan bersikap ekstrem dengan hal-hal yang keliru, merupakan contoh dari aplikasi penggunaan kata terorisme dan radikalisme. Menjadi sebuah pertanyaan bahwa banyak di antara mereka, para penebar jala jihad yang keliru, merupakan generasi-generasi muda yang seharusnya pintar memilah dan memilih. Apakah mereka tidak pintar? Bodohkah mereka? TIDAK. Nyatanya, mereka mampu merakit kembang api yang mematikan, menyusun strategi yang jitu sampai-sampai tidak ada satu orang pun di sekitarnya yang tahu bahwa dia membawa sebonggol kembang api yang cantik namun mematikan. Apakah mereka pengecut yang tidak pandai berbicara mengutarakan pendapat dan pemikirannya? TIDAK. Buktinya, banyak sekali anak muda yang kepincut dengan bualan surga mereka. Apakah mereka seorang cerdas untuk memilih jalan hidup dan memahami makna hidup dan tahu bagaimana bersikap? Saya rasa untuk hal ini, IYA.

Bangunlah pemudaku, nasib negeriku berada di pundak kita wahai kawan. Ibu pertiwi kita menunggu tangan-tangan yang kokoh dan kuat untuk menggendongnya menuju senja yang indah. Para pemuda yang pintar, kuat, dan berani itu tidaklah salah, hanya mereka tidak memiliki karakter. Mereka kehilangan jati diri sampai-sampai rela terbelah-terbelah menjadi keeping-keping bagian tubuh karena kembang api yang mereka mainkan sendiri. Sungguh menyedihkan.

Menjadi pintar, cerdas, dan kuat merupakan hal yang mudah. Namun, menjadi baik belum tentu. Inilah tugas kita bersama untuk mencari jalan menjadi seorang yang ‘baik’. Menurut Thomas Lickona, seorang profesor pendidikan dari Cortland University, mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda-tanda zaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda yang dimaksud adalah; 1) meningkatnya kekerasan di kalangan remana; 2) penggunaan kata-kata dan bahasa yang memburuk; 3) pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan; 4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas; 5) semakin pudarnya pedoman moral baik dan buruk; 6) menurunnya etos kerja; 7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru; 8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara; 9) membudayanya ketidakjujuran, dan 10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Apabila dilihat secara mendalam, kesepuluh tanda-tanda itu sudah ada di Indonesia. Mungkin akumulasi dari sepuluh tanda tersebut adalah terorisme, dan untuk menjawabnya mari kita telaah secara mendalam. (1) kekerasan di kalangan remaja, bahkan tidak berawal dari remaja, namun terorisme mengajak anak-anak kecil para tunas bangsa untuk melakukan tindak kekerasan dan dengan benar-benar berani mengantongi senjata dengan niatan jihad yang mereka anggap benar berupa bom peledak pencabut nyawa. (2) penggunaan kata-kata kasar, perlu diketahui bahwa kaa-kata kasar adalah bukan hanya sekedar kata yang secara terminologi memang berarti sesuatu yang buruk, tetapi kata-kata ancaman, makian, intimidasi dengan mengeluarkan hinaan juga termasuk kedalam kata-kata kasar. (3) pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan, sangat jarang ditemui sebuah aksi terorisme yang dilakukan secara individual. Walaupun saat aksi mereka sendirian, tetapi setelah ditelusuri sebagian besar dari mereka mempunyai kelompok. Seperti halnya ISIS, bahwa mereka mengundang dan merekrut orang-orang untuk bergabung melakukan tindakan kekerasan. (4) meningkatnya perilaku merusak diri, saya tidak memastikan apakah mereka yang tergolong pada kelompok terorisme melakukan tindak penyalah gunaan narkoba, alkohol, atau bahkan seks bebas. Tetapi, di luar dari ketiga hal tersebut, menurut saya perilaku merusak diri kelompok terorisme adalah adanya aksi-aksi bom bunuh diri, menekan diri sendiri dengan perasaan benci, dan berjuang habis-habisan untuk suatu paham yang hanya mereka lah yang tahu tujuan dan maksudnya. (5) semakin pudarnya pedoman moral baik dan buruk, orang-orang di luar aksi terorisme menganggap bahwa aksi yang mereka lakukan merupakan moral yang buruk, tetapi, menurut mereka sendiri itu adalah aksi yang mulia. (6) menurunnya etos kerja, saya tidak tahu bagaimana sistim dalam kelompok terorisme, apakah mereka mendapatkan pendapatan dari aksi terorisme yang mereka lakukan, tetapi bagi saya, etos kerja bukan hanya semangat kerja yang diukur, tetapi nilai dari kerja itu sendiri yang ditujukan untuk kebaikan atau keburukan. (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, silaka anda renungkan adakah rasa hormat yang menyelubungi mereka yang melakukan aksi terorisme? (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negar, saya tidak bisa dan tidak mau mengukur rasa tanggung jawab individual para teroris, yang saya tahu adalah bahwa aski terorisme merupakan sebuah langkah dan perbuatan menghianati negara, dan adakah rasa tanggung jawab seorang warga negara kepada negaranya di saat mereka ingin lepas dari negara tersebut? (9) membudayanya ketidak jujuran, bagi saya ketidakjujuran yang disebarkan oleh aksi terorisme dan radikalisme adalah ketidakjujuran akan memaknai makna dan maksud jihad. (10) adanya rasa saling curigadan kebencian di antara sesame sudah amat sangat ditunjukkan oleh para pengikut paham terorisme dan radikalisme sampai-sampai mereka dengan secara ringan tangan dan ringan hati melemparkan kembang api mematikan untuk melenyapkan saudara sebangsa dan setanah air mereka.

Memang miris dan kasihan terhadapa ibu peritiwi ku ini. Akankah bangsa tercinta ku akan lenyap dihapus oleh terorisme dengan begitu mengerikannya? Aku tidak terima.

Mari kita mencerdaskan diri kita dengan sebuah ilmu, kegiatan, dan prestasi yang membanggakan, membahagiakan, dan menyelematkan bangsa Indonesia tercinta. Salah satu cara yang bisa kita tempuh adalah dengan ‘berbagi’, mari kita berbagi kebaikan dengan sesama. Apa sih itu kebaikan? Memang tidak ada ukuran, tapi saya bisa mengusulkan beberapa hal yang saya sebut ‘kebaikan’ itu dengan; berbagi kasih sayang, apakah terlaul sulit untuk menggantikan kekerasan yang ada sekarang dengan seyuman, belaian, dan jabat tangan? Bahkan di facebook, twitter, messenger, BBM, dan bahkan media sosial lainnya sudah ada emotikon kok, kenapa kita tidak menggunaknnya di kehidupan nyata? Karena dengan senyuman dan kasih sayang akan menghilangkan rasa sakit, menambah semangat, dan melapangkan hati. Yang kedua adalah berbagi pengetahuan, mari kawan kita sampaikan pengetahuan yang bermanfaat yang berdasarkan pada satu bukti yang otentik dan tidak menghasut akan hal-hal yang berbau toleransi, pluralism, jihad, kebenaran. Jangan hanya kata-kata rayuan yang kau gembar-gemborkan di media sosial saja hai kawanku!

Memang hanya hal kecil yang saya sampaikan, tapi percayalah bahwa hal besar berawal dari hal kecil. Buktinya, saya menjadi sebesar sekarang karena butiran nasi. 

Dengan